Showing posts with label Metodologi. Show all posts
Showing posts with label Metodologi. Show all posts
Konsep Dasar Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) adalah salah satu metode pengambilan keputusan multikriteria yang pertama kali diperkenalkan oleh Yoon dan Hwang (1981). TOPSIS menggunakan prinsip bahwa alternatif yang terpilih harus mempunyai jarak terdekat dari solusi ideal positif dan terjauh dari solusi ideal negatif, yang bertujuan untuk menentukan kedekatan relatif dari suatu alternatif dengan solusi optimal. Solusi ideal positif didefinisikan sebagai jumlah dari seluruh nilai terbaik yang dapat dicapai untuk setiap atribut, sedangkan solusi negatif ideal terdiri dari seluruh nilai terburuk yang dicapai untuk setiap atribut.
Pemahaman Tentang Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) Sebagai Sistem Pendukung Keputusan
Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) merupakan salah satu teknik yang bisa diterapkan dalam sistem pendukung keputusan. Sistem Pendukung Keputusan atau Decision Support System (DSS) secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur (Whetyningtyas, 2011). Pengertian Decision Support System menurut (Jogiyanto, 2001) adalah suatu sistem informasi untuk membantu manajer level menengah untuk proses pengambilan keputusan setengah terstruktur (semi structured) supaya lebih efektif dengan menggunakan model-model analitis dan data yang tersedia.
Istilah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) mengacu pada suatu sistem yang memanfaatkan dukungan komputer dalam proses pengambilan keputusan. Untuk memberikan pengertian yang lebih maka ada beberapa definisi mengenai SPK oleh beberapa ahli (Hermawan, 2005). Menurut Dewanto (2015) sistem pendukung keputusan (SPK) merupakan suatu sistem yang berbasis komputer yang ditunjukan untuk membantu pengambil keputusan dengan memanfaatkan data dan model tertentu untuk memecahkan berbagai persoalan yang tidak terstruktur.
Sistem pendukung keputusan digunakan untuk mendeskripsikan sistem yang didesain untuk membantu manajer memecahkan masalah tertentu. Sistem pendukung keputusan (SPK) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer termasuk sistem berbasis pengetahuan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi maupun perusahaan (Dewanto, 2015)
Dari beberapa para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem pendukung keputusan merupakan suatu sistem informasi berbasis komputer yang dibuat untuk membantu memecahkan suatu masalah dalam pengambilan keputusan berupa alternatif pilihan menggunakan pemodelan analisis dan data yang ada.
Penerapan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
Penerapan TOPSIS membantu perusahaan untuk memanfaatkan pendekatan analisis dan pengambilan keputusan yang lebih sistematis dan terstruktur. Dalam konteks bisnis yang semakin kompleks dan global, alat ini dapat memberikan nilai tambah dalam mencapai tujuan strategis dan menghadapi tantangan yang berkembang dengan cepat.
Penerapan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) dalam dunia bisnis dan globalisasi memberikan berbagai manfaat, terutama dalam proses pengambilan keputusan. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari penerapan TOPSIS dalam konteks bisnis dan globalisasi:
  1. TOPSIS membantu dalam memilih alternatif terbaik dari sejumlah opsi yang tersedia. Dalam konteks bisnis, ini dapat diterapkan pada pemilihan vendor, pemilihan proyek investasi, atau evaluasi strategi bisnis.
  2. TOPSIS dapat digunakan untuk menganalisis kinerja relatif dari setiap alternatif dalam hubungannya dengan kriteria yang ditetapkan. Ini membantu dalam evaluasi kualitas produk, layanan, atau keputusan bisnis.
  3. Dengan mempertimbangkan kriteria risiko dan keamanan, TOPSIS dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih informasional dan dapat mengurangi risiko yang terkait dengan keputusan bisnis.
  4. Dengan memilih alternatif yang paling mendekati solusi ideal, TOPSIS dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam operasi bisnis. Misalnya, dalam pemilihan strategi operasional atau investasi dalam teknologi baru.
  5. Dalam lingkungan bisnis yang semakin terglobalisasi, TOPSIS dapat digunakan untuk memilih strategi ekspansi pasar, pemilihan mitra bisnis internasional, atau evaluasi proyek lintas batas.
  6. TOPSIS membantu dalam mengevaluasi proyek dan investasi dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang relevan. Ini dapat membantu perusahaan dalam memilih proyek yang paling sesuai dengan tujuan bisnis dan kebijakan perusahaan.
  7. Penerapan TOPSIS memastikan bahwa keputusan bisnis didasarkan pada data dan analisis yang lebih objektif. Ini membantu dalam meningkatkan keputusan yang lebih baik dan mengurangi potensi keputusan yang bersifat subyektif.
Definisi Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) Menurut Para Ahli
Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) adalah salah satu metode dari model keputusan MADM. Metode TOPSIS menggunakan konsep dimana alternatif terpilih yang terbaik tidak hanya memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif, tetapi juga memiliki jarak terpanjang dari solusi ideal negatif (Elyza Gustru Wahyuni, 2017).
Menurut Dicky Nofriansyah (2017) menyatakan bahwa, TOPSIS merupakan salah satu metode yang digemari oleh peneliti di dalam merancang sebuah sistem pendukung keputusan, selain konsepnya sederhana tetapi kompleksitas dalam pemecahan masalah baik itu ditandai dengan konsep penyelesaian metode ini yaitu dengan memilih alternatif terbaik yang tidak hanya memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif tetapi juga memiliki jarak terpanjang dari solusi ideal negatif.
Menurut Simanjorang (2019) Metode TOPSIS adalah salahsatu metode yang bisa membantu proses pengambilan keputusan yang optimal untuk menyelesaikan masalah keputusan secara praktis. Hal ini disebabkan karena konsepnya sederhana dan mudah dipahami. Sejalan dengan pendapat Marlina, Yusnaeni, dan Indriyani (2017) TOPSIS merupakan suatu metode sistem pendukung keputusan (DSS) yang digunakan untuk memilih peringkat terbaik dengan nilai bobot tertinggi pada alternative yang dinilai. Penilaian dilakukan dengan menilai berdasarkan bobot nilai dari kriteria dan alternatif. Metode TOPSIS dapat menyelesaikan pengambilan keputusan secara praktis, karena konsepnya sederhana dan mudah dipahami, komputasinya efisien, serta memiliki kemampuan mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan (Parhusip et al., 2011). Metode ini banyak digunakan untuk menyelesaikan pengambilan keputusan secara praktis karena konsepnya yang sederhana dan mudah dipahami, serta komputasinya efisien dan memiliki kemampuan mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan.
Tujuan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
TOPSIS bertujuan untuk menentukan solusi ideal positif dan solusi ideal negatif. Solusi ideal positif memaksimalkan kriteria manfaat dan meminimalkan kriteria biaya, sedangkan solusi ideal negatif memaksimalkan kriteria biaya dan meminimalkan kriteria manfaat (Fan dan Cheng, 2009). Kriteria manfaat merupakan kriteria dimana ketika nilai kriteria tersebutsemakin besar maka semakin layak pula untukdipilih. Sedangkan kriteriabiaya merupakan kebalikan dari kriteria manfaat, semakin kecil nilai darikriteria tersebut maka akan semakin layak untuk dipilih. Dalam metode TOPSIS, alternatif yang optimal adalah yang paling dekat dengan solusi idealpositif dan paling jauh dari solusi ideal negatif.
Kelemahan Dan Kelebihan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
Dalam metode TOPSIS, dipertimbangkan adanya solusi ideal positif dan solusi ideal negatif. Solusi ideal positif merupakan nilai terbaik dari semua kriteria sedangkan solusi ideal negatif adalah nilai terburuk untuk tiap kriteria dari alternatif yang ada. Dengan adanya kedua solusi ini maka alternatif yang dipilih dalam metode TOPSIS merupakan alternatif yang memiliki jarak terdekat dengan solusi ideal positif dan jarak terjauh dengan solusi ideal negatif. Karena itulah maka dapat disimpulkan beberapa kelemahan dan kelebihan metode TOPSIS.
Kelemahan TOPSIS
  1. Belum adanya penentuan bobot prioritas yang menjadi prioritas hitungan terhadap kriteria, yang berguna untuk meningkatkan validitas nilai bobot perhitungan kriteria. Maka dengan alasan ini, metode ini dapat dikombinasikan misalnya dengan metode AHP agar menghasilkan output atau keputusan yang lebih maksimal
  2. Belum adanya bentuk linguistik untuk penilaian alternatif terhadap kriteria, biasanya bentuk linguistik ini diinterpretasikan dalam sebuah bilangan fuzzy
  3. Belum adanya mediator seperti hirarki jika diproses secara mandiri maka dalam ketepatan pengambilan keputusan cenderung belum menghasilkan keputusan yang sempurna
  4. Metode TOPSIS ini dapat digunakan dalam menentukan perangkingan alternatif dengan memperhitungkan solusi ideal dari suatu masalah dan penentuan bobot setiap kriteria. Namun, kurang baik jika digunakan dalam mendapatkan bobot yang memperhitungkan hubungan antara kriteria. Walaupun dapat dilakukan dengan pairwase comparison, tetapi membutuhkan matriks dan perhitungan yang lebih rumit. Oleh karena itu, dilakukan penggabungan dengan metode lain seperti ANP (Analytic Network Process) dalam mengatasi masalah pembobotan tersebut.
  5. Pada proses yang menggunakan metode TOPSIS, perangkingan dan pembobotan kriteria adalah memiliki nilai yang telah pasti. Padahal, dalam aplikasinya di kehidupan nyata, terdapat informasi yang tidak lengkap atau informasi yang dibutuhkan tidak tersedia. Contoh penyebab informasi yang tidak lengkap tersebut adalah karena adanya penilaian dari manusia yang seringkali bersifat tidak pasti/kabur (fuzzy) dan tidak dapat mengestimasikan perangkingan dalam data numerik yang pasti. Ketidakpastian ini merupakan sesuatu yang tidak dapat diatasi jika menggunakan metode TOPSIS, kecuali jika dilakukan perhitungan algoritma lebih lanjut dalam perumusan metode TOPSIS tersebut.
  6. Metode TOPSIS menentukan solusi berdasarkan jarak terpendek menuju solusi ideal dan jarak terbesar dari solusi negatif yang ideal. Namun, metode ini tidak mempertimbangkan kepentingan relatif (relative importance) dari masing-masing jarak tersebut.
  7. Pada metode TOPSIS, seringkali digunakan asumsi pada tingkat kepentingan relatif masing-masing respon dan digunakan kombinasi dengan metode lain untuk menyelesaikan asumsi tersebut. Contohnya adalah dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) atau ANP (Analytic Network Process) untuk memperoleh nilai bobot yang mewakili tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria.
  8. Pada metode TOPSIS, alternatif dengan ranking tertinggi merupakan solusi yang terbaik, namun belum tentu ranking tertinggi tersebut adalah yang terdekat dari solusi ideal. Sehingga perlu dilakukan perhitungan lagi untuk memastikannya.
Kelebihan TOPSIS
  1. Konsepnya sederhana dan mudah dipahami, kesederhanaan ini dilihat dari alur proses metode TOPSIS yang tidak begitu rumit. Karena menggunakan indikator kriteria dan variabel alternatif sebagai pembantu untuk menentukan keputusan
  2. Komputasinya efisien, perhitungan komputasinya lebih efisien dan dan cepat
  3. Mampu dijadikan sebagai pengukur kinerja alternatif dan juga alternatif keputusan dalam sebuah bentuk output komputasi yang sederhana.
  4. Dapat digunakan sebagai metode pengambilan keputusan yang lebih cepat.
Tahapan Perhitungan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
Algoritma Penyelesaian masalah MADM dengan TOPSIS (Kusumadewi, S. Hartati, S. Harjoko, A. Wardoyo, 2004):
  • Menentukan alternatif yang pada penelitian ini adalah merek dan model mobil bekas kemudian menormalisasi setiap nilai alternatif dan matrix ternormalisasi terbobot.
  • Membuat rating pada masing-masing alternatif pada masing-masing kriteria dengan rumus sebagai berikut: 
  •  
  • Keterangan:
    ij    = Nilai Normalisasi Kriteria ke i.
    Xij    = Hasil pertimbangan berdasarkan kriteria ke i.
     
  • Membuat matrix normalisasi terbobot.
  • Menentukan nilai normalisasi maksimum dan minimum.
  • Menghitung Sparasi Ideal Positif dengan menggunakan persamaan berikut ini:
  •  
  • Keterangan:
    Di+     = Sparasi ideal positif
    yi+     = Nilai Normaliasasi Maksimum
    yij    = Normalisasi Terbobot
     
  • Hasil perhitungan untuk nilai normalisasi maksimum dikurangi normalisasi terbobot

  • Hasil perhitungan untuk nilai normalisasi maksimum dikurangi normalisasi terbobot pangkat 2 (dua) dengan persamaan

  • Hasil perhitungan untuk nilai akar dari jumlah akumulasi normalisasi maksimum dikurangi normalisasi terbobot pangkat 2 (dua) pada persamaan

  • Menghitung Sparasi Ideal negatif dengan menggunakan persamaan berikut ini:
  •  
  • Keterangan:
    Di-     = Sparasi ideal negatif
    yi-     = Nilai Normaliasasi minimum
    yij    = Normalisasi Terbobot
  • Hasil perhitungan untuk nilai normalisasi terbobot dikurangi normalisasi minimum

  • Hasil perhitungan untuk nilai normalisasi minimum dikurangi normalisasi terbobot pangkat 2 (dua) dengan persamaan

  • Hasil perhitungan untuk nilai akar dari jumlah akumulasi normalisasi minimum dikurangi normalisasi terbobot pangkat 2 (dua) pada persamaan

  • Menghitung nilai preferensi dari setiap alternatif berdasarkan solusi ideal positif dan solusi ideal negative.
  • Data solusi ideal positif dan negative di atas kemudian dihitung menggunakan persamaan berikut ini:
  •  
  • Keterangan:
    Vi    = Nilai preferensi untuk alternatif ke i
    D-    = Solusi Ideal negative
    D+    = Solusi Ideal positif
     
  • Melakukan perankingan berdasarkan hasil perhitungan nilai preferensi.
Penutup
TOPSIS merupakan suatu metode sistem pendukung keputusan (DSS) yang digunakan untuk memilih peringkat terbaik dengan nilai bobot tertinggi pada alternative yang dinilai. Penilaian dilakukan dengan menilai berdasarkan bobot nilai dari kriteria dan alternatif. Namun, metode ini tidak mempertimbangkan kepentingan relatif (relative importance) dari masing-masing jarak tersebut. Oleh sebab itu solusi dari permasalahan kekurangan metode TOPSIS dapat ditutupi dengan batasan yang jelas dalam menentukan jarak penilaian pada masing-masing kriteria yang digunakan. Pada metode TOPSIS, seringkali digunakan asumsi pada tingkat kepentingan relatif masing-masing respon dan digunakan kombinasi dengan metode lain untuk menyelesaikan asumsi tersebut. Contohnya adalah dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) atau ANP (Analytic Network Process) untuk memperoleh nilai bobot yang mewakili tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria.
Sumber Pustaka
  1. Amida, S. N., & Kristiana, T. (2019). Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Pegawai Dengan Menggunakan Metode Topsis. JSAI (Journal Scientific and Applied Informatics), 2(3), 193–201. https://doi.org/10.36085/jsai.v2i3.415
  2. Dicky Nofriansyah, S. D. (2017). Multi Criteria Decision Making (MCDM): pada sistem pendukung keputusan. Deepublish.
  3. Elyza Gustru Wahyuni, A. T. A. (2017). Sistem Pendukung Keputusan Penerimaan Pegawai Dengan Metode Topsis. Jurnal Sains, Teknologi Dan Industri, 14(2).
  4. Fan, C. K., & Cheng, S. W. (2009). Using Analytic Hierarchy Process Method and Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution to Evaluate Curriculum in Department of Risk Management and Insurance. 19(1), 1–8.
  5. Hakim, L. (2019). Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Menggunakan Metode Topsis Pada PT.Karunia Berkat Alam Demak.
  6. Hermawan, J. (2005). Membangun Decision Support System. Andi.
  7. Marlina, M., Yusnaeni, W., & Indriyani, N. (2017). Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Siswa Yang Berhak Mendapatkan Beasiswa Dengan Metode Topsis. Jurnal Techno Nusa Mandiri, 14(2), 147–152.
  8. Mulyanto, A. (2009). Sistem Informasi Konsep dan Aplikasi. Pustaka Pelajar.
  9. Nurhayati, S. (2017). Sistem Penilaian Kinerja Karyawan Menggunakan Metode TOPSIS pada PT XYZ. Prosiding Saintiks FTIK UNIKOM, 2, 25–28.
  10. Palasara, N., & Baidawi, T. (2018). Penerapan Sistem Pendukung Keputusan Pada Penilaian Karyawan Menggunakan Metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution ( TOPSIS ).
  11. Pressman, R. (2001). Software Engineering: A Practitioner’s Approach, Fifth Ed. McGraw-Hill Book Company.
  12. Putra, K. D., Lina, S., Sitio, M., Studi, P., Informatika, T., Teknik, F., Pamulang, U., Selatan-indonesia, T., & Karyawan, P. K. (2021). Perancangan Sistem Pendukung Berbasis Desktop Menggunakan Kombinasi Metode SMART-TOPSIS. 5(3), 240–249.
  13. Rahman, A. K., & Suwartane, I. G. A. (2020). Rancang Bangun Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Karyawan Terbaik Dengan Metode Tehcnique For Order Preference By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS) Berbasis Web. 4(1).
  14. Sachdeva. (2009). Multi-Factor Mode Critically Analysis Using TOPSIS. International Journal of Industrial Enineering, 5(8).
  15. Simanjorang, R. M. (2019). Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Dosen Terbaik dengan menggunakan Metode TOPSIS (Studi Kasus: STMIK Pelita Nusantara Medan). Jurnal STMIK Pelita Nusantara Medan, 4(1), 10–15.
  16. Whetyningtyas, A. (2011). Peranan Decision Support System (DSS) Bagi Manajemen Selaku Decision Maker. Jurnal Analisis Manajemen, 5(1), 102–108.


Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah suatu model belajar yang dikembangkan dengan tujuan adanya kolaborasi antar siswa didalam satu kelompok serta mengutamakan integrasi pemahaman sesuai tujuan pembelajaran sehingga penyampaian pendidikan akan lebih efektif dan efisien. Menurut para ahli pendidikan meyakini bahwa model pembelajaran kooperatif sangat efektif dalam mengejar ketertinggalan pemerataan pendidikan yang memiliki ketimpangan seperti pada saat ini. Tidak hanya itu, perbedaan kemampuan masyarakat dalam hal ekonomi yang signifikan, menjadi salah satu kendala pemerataan aksesibilitas masyarakat untuk mengakses pendidikan secara merata. Dengan model pembelajaran kooperatif diharapkan dapat menciptakan interaksi antar siswa dari berbagai tingkat berfikir, latar belakang dan karakter.

Sebelum melangkah lebih jauh mengenai konsep dasar pembelajaran kooperatif ada baiknya anda mempelajari sekilas teori dasar model pendidikan tersebut yang sudah diimplementasikan pada postingan sebelumnya. Kita akan membahas lebih lengkap mengenai definisi atau pengertian model pembelajaran kooperatif tersebut serta tujuan dan latar belakangnya sehingga penting sekali model pembelajaran semacam ini untuk siswa maupun tenga pengajar.

Pengertian dan Definisi Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut pendapat Menurut Slavin (2011), pembelajaran kooperatif adalah sebuah model lingkungan belajar yang dikembangkan dengan cara memerintahkan peserta didik untuk bekerjasama dalam suatu kelompok belajar yang tentunya memiliki kemampuan beraneka ragam sehingga diharapkan memiliki kemampuan menyelesaikan berbagai pemahaman dan tugas-tugas akademik sesuai tujuan pendidikan yang diharapkan. Menurut slavin disini mengutamakan pemahaman konsep belajar dimana siswa akan tertarik menyampaikan kemampuan yang dimilikinya untuk dipelajari oleh siswa lain sehingga terjadi pertukaran pemikiran yang dinamis dan tidak dibatasi.

Berbeda dengan pendapat Lie (2004) yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model strategi pembelajaran pada saat proses pembelajaran yang dilakukan oleh tenaga pendidik (guru) dimana pada model pembelajaran ini membutuhkan partisipasi dan kerjasama antar siwa dalam kelompok yang dibentuk. Dengan adanya kerjasama tersebut diharapkan dapat meningkatkan efktifitas proses pendidikan yang dilalui peserta didik sehingga menjadi lebih baik dan menanamkan sikap kolaboratif dalam berperilaku sosial antar siswanya.

Menurut Slavin (2011) menambahkan pada pemahaman mengenai model ini dimana pembelajaran kooperatif adalah model belajar pada lingkungan dimana semua peserta didik bekerjasama dalam suatu kelompok yang dibentuk dari individu yang memiliki kemampuan beragam untuk menyelesaikan tugas akademik sesuai kurikulum yang telah ditetapkan. Pendapat Slavin ini cenderung menempatkan model pembelajaran kooperatif sebagai instrumen akademik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Berdasarkan beberapa pengertian serta definisi yang dijelaskan mengenai model pembelajaran kooperatif menurut para ahli tersebut di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pada intinya pembelajaran semacam ini melibatkan kelompok pembelajaran yang terdiri dari beberapa individu siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda dengan harapan terjadinya interaksi pendidikan bukan hanya antar tenaga pendidik dan siswa namun juga adanya interaski positif antar siswa itu sendiri. Namun menurut saya pribadi model pembelajaran kooperatif merupakan pengembangan yang lebih sarat akan pesan akademik dari konsep belajar kelompok yang sudah ada beberapa dekade sebelumnya.

Ada juga beberapa teori para ahli yang harus dipertimbangkan dalam memahami lebih jauh dan mendasari pembelajaran kooperatif ini, dua diantaranya yaitu:

  1. Teori Pembelajaran Ausabel. Pembelajaran ini memandang subjek yang dipelajari peserta didik mestilah memiliki makna yang berarti (meaning full). Maksud dari pembelajaran yang bermakna tersebut adalah makna yang berarti akan terjadi pada kelompok belajar yang mengimplementasikan kooperatif dengan syarat apabila siswa mampu menghubungkan antara fenomena baru pada ilmu pengetahuan ke dalam struktur pengetahuan yang mereka miliki (Sagala, 2004)

  2. Teori pembelajaran Vygotsky. Vygotsky berpendapat bahwa pada model kooperatif terdapat hubungan secara langsung antara domain kognitif siswa yang menjadi anggota kelompok tersebut dengan sosio budaya lingkungannya. Pada model ini Vygotsky menyatakan bahwa kualitas berfikir siswa dibina dan dikembangkan dalam media ruangan belajar berbentuk kerjasama sesama mereka yang lebih mampu, dibawah bimbingan pendidik (Nurwahyuni, 2007).

Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif

Setidaknya pada karakter model pembelajaran kooperatif harus ada beberapa peserta didik dalam satu kelompok. Peserta didik adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran di dalam kelompok belajar yang telah ditentukan. Proses pengelompokan peserta didik itu sendiri biasanya ditetapkan oleh tenaga pengajar yang kompeten memahami model pembelajaran berdasarkan beberapa pendekatan, diantaranya yaitu pengelompokan berdasarkan perbedaan bakat siswa, latar belakang kemampuan pribadi (Skill) dan minat siswa akan sesuatu yang positif.

Model pembelajaran kooperatif memiliki aturan kelompok yang dsepakati oleh seluruh peserta didik yang dipandu oleh tenaga pengajar. Aturan kelompok tersebut merupakan suatu nilai perilaku yang disepakati oleh semua pihak yang terlibat baik itu adalah siswa sebagai anggota kelompok maupun tenaga pengajar yang mendampingi kelompok belajar tersebut. Misalnya aturan tentang aturan jam pelajaran, keterlambatan, aturan berbicara dan aturan lain yang berkaitan dengan perilaku siswa yang perlu diarahkan secara positif.

Karakteristik lainnya adalah adanya upaya dan kesadaran untuk belajar pada setiap anggota kelompok. Upaya belajar adalah usaha yang dilakukan siswa untuk meningkatkan pengetahuan dalam koridor pendidikan melalui belajar bersama dan kesadaran akan melibatkan dirinya dalam aktivitas belajar bersama. Berbagai macam hal yang ia hadapi dalam proses pembelajaran kooperatif adalah nilai positif yang harus dimaknai dengan baik sehinga mengembangkan sikap dan cara berfikirnya. Pada prakteknya di dalam kelompok belajar tesebut dapat dilakukan dengan saling tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan yang diutarakan. Untuk meningkatkan daya minat akan kesadaran untuk memperoleh pemahaman baru maka tenaga pengajar (guru) bisa mengarahkan siswanya pada teknik penyelesaian masalah yang lebih konkret.

Setiap proses dalam menjalankan pembelajaran tentunya harus disertai tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ini dimaksudkan untuk memberi arah kepada peserta didik untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang pada akhir proses dapat menghasilkan satu kesimpulan. Menurut pendapat Arisanti (2015) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning) tersebut mempunyai 2 (dua) komponen utama, yang harus dipenuhi yaitu komponen tugas kooperatif (cooperative task) yang berkaitan dengan penyebab anggota bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai macam tugas kelompoknya dan komponen struktur insentif (cooperative incentive structure) merupakan sesuatu hal yang menimbulkan motivasi belajar bagi individu untuk bekerja sama mencapai target yang ditetapkan sebelumnya oleh kelompok.

Selain memiliki kuntungan pemerataan dalam proses pembelajaran, maka pembelajaran kooperatif (cooperative learning) memiliki dampak lainnya yang tidak, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student achievement), peningkatan hubungan atau relasi sosial dengan teman, keterbukaan, peningkatann kepercayaan diri, peningkatan berfikir akademik, sikap menghargai terhadap waktu, dan dorongan sikap untuk memberi pertolongan kepada sesama anggota belajar lain. Hal inilah yang menyebabkan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) berbeda dengan model pembelaaran lainnya. Apabila kita melihat dari perspektif sosial, model pembelajaran kooperatif akan menciptakan hubungan sosial antar setiap peserta didik untuk dapat saling membantu dalam proses belajar karena maing-masing peserta didik dalam kelompok belajar tersebut menginginkan semua anggota memperoleh keberhasilan (Sanjaya, 2006). Diperkuat dari pandangan lain yaitu dilihat dari perspektif motivasi, dimana penghargaan hanya diberikan kepada kelompok sehingga mendorong setiap anggota kelompok untuk saling membantu satu sama lain. Dengan demikian, setiap siswa pada model embelajaran kooperatif akan menyadari bahwa makna dari keberhasilan adalah keberhasilan bagi kelompoknya dan bukan keberhasilan pribadi semata.

Berdasarkan uraian di atas maka karakteristik model pembelajaran kooperatif dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran dilakukan secara tim atau kerja sama tim. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pembelajaran yang dilakukan secara tim yang terdiri dari beberapa orang, sedangkan tim tersebut merupakan tempat mencapai tujuan. Oleh sebab itu, semua anggota tim harus mampu belajar dan saling membantu untuk kepentingan pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learning) setiap siswa yang menjadi anggota kelompok bersifat heterogen atau berbeda-beda. Artinya anggota kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang yang berbeda-beda. Semua aspek yang diterapkan dalam pembelajaran kooperatif dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman positifnya, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan setiap anggota kelompok dapat saling memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok itu sendiri.

  2. Dalam pembelajaran kooperatif, pihak manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu: (1) Demonstrasi perencanaan menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran kolaboratif yang cermat diperlukan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara efektif. Misalnya, tujuan apa yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, dll. (2) Kinerja organisasi menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif merupakan tindakan yang dilakukan oleh semua anggota kelompok. Oleh karena itu, perlu didefinisikan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok. (3) Mendefinisikan kriteria akurasi tes dan non-tes membutuhkan demonstrasi kontrol simbolik dalam pendekatan partisipatif.

  3. Kemampuan berkolaborasi Karena keberhasilan kolaborasi bergantung pada keberhasilan kelompok, maka prinsip kolaborasi harus ditekankan dalam proses pembelajaran berkolaborasi. Anda perlu membantu satu sama lain serta menentukan peran dan tanggung jawab setiap anggota grup. Misalnya, orang bijak cenderung tidak dibantu oleh orang bijak.

  4. Kemampuan untuk bekerja sama dipraktikkan melalui aktivitas. Oleh karena itu, siswa harus dipersiapkan dan didorong untuk berkomunikasi dengan anggota lainnya. Siswa membutuhkan bantuan untuk mengatasi berbagai hambatan interaksi dan komunikasi sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan idenya, mengemukakan pendapat, dan berkontribusi bagi keberhasilan kelompok.

Tujuan Adanya Pembelajaran Kooperatif

Beberapa tahun kebelakang dan mungkin saya sendiri masih merasakannya, kita mengenal konsep belajar kompetisi. Saya bisa mengatakan bahwa model pembelajaran semacam ini merupakan konsep pendidikan tradisional yang tentunya sudah tidak relevan dengan tujuan pendidikan di masa sekarang. Dengan kompetisi kita tidak bisa meratakan kemampuan siswa yang tentunya memiliki kemampuan akses informasi pendidikan yang berbeda-beda berdasarkan kemampuan ekonominya. Akibat dari sistem tersebut maka siswa dengan latar belakang ekonomi yang rendah akan menjadi marjinal dalam akses terhadap pendidikan. Tentunya tujuan pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan sistem pembelajaran tradisional tersebut yang sebelumnya menerapkan sistem kompetisi, dengan implementasi pembelajaran kooperatif ini diharapkan menciptakan situasi di mana sebuah keberhasilan dari individu siswa hanya ditentukan oleh keberhasilan dari performa kelompoknya.

Berdasarkan misi pemerintah dalam memecahkan permasalahan pendidikan dan mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas pendidikan yang layak maka bisa kita rumuskan tujuan model pembelajaran kooperatif ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar akademik siswa. Pembelajaran yang bersifat partisipatif mengejar berbagai tujuan sosial, tetapi meningkatkan prestasi siswa dan program akademik penting lainnya. Pembelajaran dengan konsep kolaboratif juga bermanfaat bagi siswa tingkat rendah, menengah, dan tinggi karena dapat menyelesaikan masalah melalui kerjasama serta konseling antar teman sebaya.

Pembelajaran kooperatif memungkinkan setiap siswa menerima ide yang berbeda dari teman sebayanya di dalam kelompok belajar tersebut. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah untuk merangkul orang lain yang berbeda latar belakang ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan kecacatan, serta bekerja sama untuk memecahkan masalah sekolah. Siswa saling menghormati melalui struktur penghargaan.

Model pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan pengembangan keterampilan sosial. Hal ini berarti bahwa anda dapat memberikan keterampilan kolaborasi kepada siswa. Siswa harus memiliki keterampilan sosial yang penting karena banyak anak muda yang masih kurang memiliki keterampilan sosial.

Tujuan lain dari pembelajaran kooperatif yaitu mendorong siswa agar mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda. Dengan pembelajaran kooperatif ini akan mendorong prilaku siswa yang menjadi peserta didik untuk dapat saling menghargai pendapat kemudian juga memiliki kemampuan saling memberikan kritik atas kesalahan-kesalahan secara positif, mencari jawaban yang paling tepat sesuai kaidah akademik dan dapat dipertanggung jawabkan menggunakan sumber-sumber pembelajaran relevan seperti buku dan reverensi pelajaran lainnya yang ada di internet untuk dijadikan landasan yang tepat pada saat mencari jawaban yang baik dan benar. Hal ini juga dilakukan untuk memperoleh pemahaman terhadap bahan ajar yang disediakan pada silabus tenaga pengajar sehingga siswa mampu dengan baik memperdalamnya dalam waktu yang lebih cepat (Ramayulis, 2013).

Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif

Unsur dasar yang paling penting dalam pembelajaran kooperatif adalah saling ketergantungan yang bersifat positif antara satu siswa dengan siswa lain, dimana pada model ini akan menuntut interaksi promotif dan saling memberikan motivasi untuk mencapai tujuan akademik yang optimal. Kita bisa mencontohkan dengan ilustrasi bahwa masing-masing siswa akan tergantung kepada anggota lain karena memiliki tugas pelajaran yang berbeda sesuai kesepakatan dan proporsinya. Apabila salah satu siswa tidak mengerjakan maka tugas kelompoknya dianggap belum selesai.

Karena adanya kesadaran akan ketergantungan itulah yang secara efektif menumbuhkan rasa tanggung jawab pada setiap siswa. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan seorang siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan. Hasil penilaian dikomunikasikan kepada kelompok oleh guru sehingga semua kelompok mengetahui anggota kelompok mana yang membutuhkan bantuan dan siapa yang dapat memperoleh bantuan. Setiap siswa secara otomatis diberikan kegiatan yang berbeda, dan setiap anggota kelompok memiliki keterampilan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya, sehingga siswa tersebut bertanggung jawab atas kegiatan tersebut.

Untuk interaksi tatap muka, siswa harus dapat berkomunikasi dengan sesama siswa dan guru secara berkelompok. Jenis interaksi ini memungkinkan peserta didik menjadi sumber belajar bagi individu siswa itu sendiri, sumber belajar yang lebih beragam, dan pembelajaran yang lebih mudah bagi peserta didik. Dalam konflik tatap muka, siswa penyandang disabilitas melakukan tugas individu dalam kelompok, dan siswa lainnya melakukan tugas kelompok untuk mendukung dengan lebih baik.

Pembelajaran partisipatif yang dilakukan setidaknya dapat memberikan keterampilan sosial, toleransi, kritik positif kepada teman, keberanian untuk berpikir logis, tidak ada kontrol atas orang lain, kemandirian untuk membangun hubungan interpersonal, dan sifat berguna lainnya dari pembelajaran ini. Komponen ini juga menuntut siswa untuk memiliki keterampilan komunikasi lainnya. Tidak semua siswa memiliki keterampilan menyimak dan berbicara, sehingga guru harus belajar berkomunikasi sebelum ditugaskan ke dalam suatu kelompok. Keberhasilan kelompok tersebut tergantung pada kesediaan anggota untuk mendengarkan satu sama lain dan kemampuan mereka untuk mengungkapkan pendapat mereka. Kadang-kadang perlu untuk memberi tahu siswa dengan jelas bagaimana melawan orang lain tanpa mengganggu mereka.

Guru hendaknya memberikan waktu kepada kelompok untuk mengevaluasi hasil kerja tim dan proses kolaborasi sehingga kelompok dapat menilai dan mengembangkannya sendiri dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak diperlukan setiap kali tugas kelompok dibuat. Namun, hal ini dapat terwujud seiring waktu setelah banyak siswa berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran bersama. (Suprijono, 2013).

Tipe Pembelajaran Kooperatif

Walaupun sebetulnya tipe pembelajaran kooperatif masih terus dikembangkan dan masih memiliki banyak tipe-tipe lainnya namun pada artikel kali ini saya akan menjelaskan 4 (empat) tipe utama yang biasa diimplementasikan dalam kegiatan belajar, yaitu STAD, struktural, jigsaw dan investigasi kelompok. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing tipe tersebut:

1. Tipe Student Team Achievement Division (STAD)

Sekilas mengenai sejarah Student Team Achievement Division (STAND) dimana tipe ini pertama kali dikembangkan oleh Robert Slavin dari Universitas John Hopkin. model Student Team Achievement Division (STAND) ini merupakan perubahan lebih baik dari model pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti sebelumnya. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, diterapkan, dan telah digunakan dalam berbagai mata pelajaran di banyak sekolah-sekolah.

Student Team Achievement Division (STAND) diterapkan dengan cara siswa dikelompokkan secara acak dan beragam kemudian siswa yang dianggap lebih pandai akan menjelaskan kepada siswa lain sampai mengerti. Kelebihan dari penerapan tipe Team Achievement Division (STAND) ini yaitu dimana seluruh siswa menjadi lebih siap dan melatih kerjasama dengan baik. Sedangkan kelemahannya adalah apabila semua anggota kelompok mengalami kesulitan dalam mempelajari suatu materi maka tenaga pengajar harus siap memberikan pemahaman lebih.

2. Tipe Pendekatan Struktural

Dilihat dari sejarahnya bahwa tipe pendekatan struktural yang dikembangkan oleh Spenser dan Miguel Kagan ini mengubah anggapan yang menyatakan bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselang dengan setting kelompok kelas secara keseluruhan. Tipe pendekatan struktural dapat dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran kepada siswa kemudian diberi waktu untuk beberapa saat untuk dapat memikirkan sendiri jawabannya. Selanjutnya siswa diminta untuk mendiskusikan dengan kelompoknya tersebut.

Interaksi pada diskusi tersebut dapat menghasilkan sebuah jawaban yang diakui bersama berdasarkan identifikasi oleh kemampuan berfikir siswa masing-masing. Tidak cukup hanya itu, langkah selanjutnya adalah membawa hasil jawaban ke forum yang lebih luas yaitu di depan kelas. Pada tahap ini semua ide akan terkumpul dan mungkin diantaranya ada beberapa kelompok yang sepakat namun juga memungkinkan adanya temuan ide baru atas pemikiran dari kelompok lain yang dibagikan bersama.

3. Tipe Jigsaw

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson di Universitas Texas, dimana dalam tipe ini tenaga pengajar membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen informasi yang lebih kecil. Langkah selanjutnya kemudian tenaga pengajar membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok belajar yang terdiri dari empat orang anggota sehingga setiap anggota tersebut bertanggung jawab terhadap kemampuan penguasaan setiap topik yang diberikan sebaik mungkin. Siswa yang berasal dari dari masing-masing kelompok kooperatif yang bertanggung jawab terhadap sebuah topik yang sama membentuk lagi sebuah kelompok yang hanya terdiri dari dua atau tiga orang.

Ada beberapa hal yang menjadi tugas siswa dalam kooperatif tipe ini yaitu siswa belajar menjadi seorang yang ahli dalam sebuah topik, kemudian memikirkan bagaimana mengajarkannya atau menyampaikan informasi yang ia miliki kepada kelompok lain. Pada tipe ini siswa di tuntut untuk menguasai sebuah bidang atau topik pembahasan secara spesifik dan dituntut pula menyampaikan kepada teman-temannya.

4. Tipe Investigasi Kelompok (Group Investigation)

Tipe pembelajaran kooperatif ini dikembangkan oleh Herbert Thelen kemudian dikembangkan menjadi lebih baik oleh Sharan dkk di Universitas Tel Aviv. Tipe ini mendorong para siswa yang terlibat dalam kelompok belajar untuk memiliki kemampuan yang baik dalam melakukan komunikasi ketrampilan pengelolaan kelompok (group process skills). Pada tipe investigasi kelompok, tenaga pengajar membagi siswa dalam kelas menjadi beberapa kelompok belajar yang terdiri dari 4-6 anggota saja dengan pertimbangan bahwa siswa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari berbagai sisi. Siswa ditugaskan untuk mempelajari sebuah topik pembahasan secara mendalam dan menyiapkan presentasi di depan kelas. Biasanya untuk membantu siswa dalam pengembangan pembahasan, maka tenaga pengajar akan menyampaikan terlebih dahulu gambaran luas dari masing-masing topik yang akan dipilih. Kemudian para siswa beserta guru melakukan perencanaan berbagai tahapan proses dan prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih.

Keunggulan Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif memberikan sensasi kebebasan dalam belajar, dimana siswa tidak akan merasa terbebani akan tugas sekolah karena dikerjakan berkelompok. Hal ini kaitannya dengan dorongan kerja sama dan melatih siswa untuk mampu mengajak teman satu kelompok yang lainnya untuk saling berkoordinasi dengan baik. Penyelesaian tugas tidak ditanggungkan pada seseorang saja namun pada sekelompok orang dengan karakter yang berbeda. Dengan adanya pemikiran semacam ini menyebabkan tumbuhnya rasa kebersamaan diantara siswa.

Kebebasan berfikir dalam kelompok belajar dengan anggota yang berbeda-beda dalam hal latar belakang, kesukaan, kemampuan dan cara berfikir mendorong perluasan berfikir siswa itu sendiri. Siswa akan semakin memperdalam konsep sesuai caranya dan mengkritisi pendapat yang bebeda. Kebebasan dan keragaman latar belakang kelompok belajar menjadi kombinasi yang sinergis untuk dapat memecahkan masalah. Dengan model pembelajaran kooperatif ini pemecahan masalah menjadi lebih efektif dibandingkan model individu.

Konsep pembelajaran yang mengutamakan kolaboratif ini memandang kompetisi antar individu sehingga berpotensi meningkatkan hubungan sosial yang lebih baik. Dengan menjaga keragaman karakter dan konep berfikir yang berbeda maka model kooperatif dapat di implementasikan pada beragam budaya daerah tanpa batasan teritorial.

Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif dapat menimbulkan perselisihan karena perbedaan karakter dan latar belakang masing-masing anggota kelompok belajarnya apabila tidak dijaga dengan hubungan baik. Perselisihan ini akan berdampak pula pada hasil pembelajaran siswa yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu perselisihan yang mungkin terjadi biasanya diantisipasi oleh tenaga pengajar dengan memberikan pengarahan.

Kemampuan belajar siswa yang berbeda terkadang memberikan perbandingan dominasi yang mencolok. Sebagian ada siswa yang nampak sangat dominan dan sebaliknya ada sebagian siswa yang tidak mampu mencolok diantara teman-temannya sehingga hanya bisa diam pada saat jam pelajaran. Kelemahan pada model pembelajaran kooperatif semacam ini sebetulnya dapat diantisipasi dengan pendekatan partisipasi guru pada personal masing-masing siswa sehingga mampu memberikan proporsi yang sama atas dominasi kelompok.

Karena prosesnya yang panjang dalam pembelajaran kooperatif ini maka membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan pembelajaran individu. Tidak adanya kompetisi antar siswa menyebabkan kecepatan pemahaman topik pembelajaran berjalan sangat lambat. Karena mambutuhkan komunikasi dan pertukaran pendapat dalam bentuk diskusi menyebabkan berbagai proses ini membutuhkan waktu yang lebih lama dan sangat sulit menentukan pencapaian target paling optimal.

Sumber Pustaka

  • Arisanti Devi. 2015, Model Pembelajaran Kooperatif pada Pendidikan Agama Islam. Vol. 12 No. 1 (2015): Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan
  • Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.
  • Nurwahyuni, Esa. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Anzul Media.
  • Ramayulis. 2012. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
  • Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
  • Sanjaya, Wina. 2006. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta:Prenada Media Group.
  • Slavin, Robert E., 2011. Cooperative Learning, Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.
Analisis tendensi atau kecendrungan adalah ulasan mendalam mengenai suatu fenomena yang disajikan secara kualitatif ataupun kuantitatif yang berlandasrkan ikhtisar data secara sederhana dan pola data tertentu. Sebelum memahami teknik analisis tendensi yang paling umum digunakan dalam akademis maka perlu dipahami terlebih dahulu mengenai karya ilmiah itu sendiri. Karya ilmiah pengertian yang paling sederhana merupakan karya tulis yang memiliki bobot atau intisari akademis, dimana didalamnya memuat organisasi tulisan, substansi masalah, akurasi data, dan penyajian. Karya ilmiah juga sering disebut sebagai karya tulis akademik (Barnawi dan M Arifin, 2015:18).