Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Tinjauan Teori Demand Forecasting Dan Konsep Dasar  Supply Chain Management

Supply chain management (SCM) adalah dasar yang memiliki peran fundamental guna mendukung pemenuhan kebutuhan konsumen yang dilakukan oleh bisnis manufaktur, ritel, dan grosir. Dengan kata lain, SCM adalah faktor penentu kesuksesan dari bisnis-bisnis tersebut yang berhubungan dengan ketersediaan barang


Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, barang, barang setengah jadi dan atau barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangunan dan perekayasaan industri yakni kelompok industri hulu (kelompok industri dasar), kelompok industri hilir, dan kelompok industri kecil. Bidang usaha industri adalah lapangan kegiatan yang bersangkutan dengan cabang industri yang mempunyai ciri khusus yang sama dan atau hasilnya bersifat akhir dalam proses produksi.


Pengertian Supply chain management (SCM)

Supply chain management (SCM) atau yang sering disebut sebagai rantai pasokan dalam setiap bisnis bisa saja berbeda. Versi paling dasarnya yakni mencakup perusahaan, pemasoknya, dan pelanggan perusahaan tersebut. Namun, untuk perusahaan yang lebih besar, maka cakupannya juga jadi semakin luas. Istilah supply chain management dan logistik sering membingungkan atau digunakan secara bergantian, namun sebenarnya keduanya berbeda. Logistik adalah komponen dari manajemen rantai pasokan, berfokus pada pemindahan produk atau material dengan cara yang paling efisien sehingga tiba di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Sedangkan SCM melibatkan serangkaian kegiatan yang lebih luas, mulai dari mencari sumber bahan baku, memperoleh barang dan bahan baku dengan harga terbaik, dan mengoordinasikan upaya visibilitas di seluruh jaringan rantai pasokan.


Pengertian Supply Chain Management (SCM) adalah suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas seluruh perusahaan yang tergabung dalam rantai pasok melalui optimalisasi kualitas dan waktu. Supply Chain Management merupakan pengintegrasian sumber-sumber bisnis yang berkompeten baik di dalam maupun di luar perusahaan untuk mendapatkan sistem supplai yang kompetitif dan berfokus kepada sinkronisasi aliran produk dan informasi untuk menciptakan nilai pelanggan (customer value) yang tinggi. Sumber-sumber bisnis yang diintegrasikan meliputi Pemasok (Supplier), Pabrikan, Gudang, Pengangkut, Distributor, Retailer dan Konsumen yang bekerja secara efisien sehingga produk yang dihasilkan dan didistribusikan memenuhi tepat jumlah, kualitas, waktu dan lokasi. Masalah terhadap waktu proses produksi dan distribusi yang tidak menentu dan stok persediaan barang yang terkadang kehabisan dapat dioptimalkan melalui pengendalian persediaan barang.


SCM (Supply Chain Management) Upstream merupakan manajemen yang mengurus hubungan antara perusahaan dengan vendor atau juga pihak lain dalam hal transfer barang. Jadi barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan tidak langsung sampai ke tangan konsumen tapi juga disalurkan ke perusahaan penyalur lainnya. Transaksi antara organisasi dan pemasok dan perantara, setara dengan e-commerce sisi pembelian. Upstream activity meliputi pemasok bahan baku, yaitu bahan yang tidak diproses. Misalnya, logam seperti aluminium dan tembaga adalah bahan baku. Kegiatan hulu dapat mencakup pemasok menambang bahan-bahan ini untuk memenuhi pesanan. Misalkan bahan sudah dipesan tetapi tidak ada di tangan. Fokus kegiatan kemungkinan akan menambang bahan yang diminta secepat dan seefisien mungkin. Mengangkut atau mengirim ke pabrik adalah contoh lain dari kegiatan hulu.


Dalam memenuhi kebutuhan barang diperlukan model peramalan permintaan. Pada penelitian ini, metode peramalan permintaan (Demand Forecasting) yang digunakan adalah metode Exponential smoothing (penghalusan eksponensial) yaitu metode peramalan rataan bergerak dengan pembobotan di mana titik-titik data dibobotkan oleh fungsi eksponensial.


Menurut J. A. O’Brien (2006), SCM adalah sistem antar perusahaan lintas fungsi, yang menggunakan teknologi informasi untuk membantu mendukung, serta mengelola berbagai hubungan antara beberapa proses bisnis utama perusahaan dan dengan pemasok, pelanggan, dan para mitra bisnis. Perusahan manufactur menurut Pujawan (2005), kegiatankegiatan utama yang masuk dalam klasifikasi SCM adalah :

  • Kegiatan merancang produk baru (Product Development), kegiatan mendapatkan bahan baku (Procurement).
  • Kegiatan merencanakan produksi dan persediaan (Planning and Control), kegiatan melakukan produksi (Production).
  • Kegiatan melakukan pengiriman / distribution.


Ukuran performansi SCM, antara lain:

  • Kualitas (tingkat kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan, ketepatan pengiriman)
  • Waktu (total replenishment time, business cycle time)
  • Biaya (total delivered cost, efisiensi nilai tambah)
  • Fleksibilitas (jumlah dan spesifikasi).


SCM juga bisa diartikan jaringan organisasi yang menyangkut hubungan ke hulu (upstream) dan ke hilir (downstream), dalam proses yang berbeda dan menghasilkan nilai dalam bentuk barang / jasa di tangan pelanggan terakhir (ultimate customer/end user).


Peramalan (Forecasting)

Dalam dunia usaha khususnya yang berhubungan dengan produksi sangat penting untuk memperkirakan hal-hal yang akan terjadi dimasa depan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Menurut Arman Hakim Nasution dan Yudha Prasetyawan dalam buku nya yang berjudul perencanaan dan pengendalian produksi (2008). Peramalan adalah proses untuk memperkirakan beberapa kebutuhan dimasa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu, dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang maupun jasa. Render dan Heizer (2007) mendefinisikan peramalan adalah seni dan ilmu memprediksi peristiwa-peristiwa masa depan. Hal ini serupa dengan pendapat Subagyo (2000) Forecasting adalah memperkirakan sesuatu yang akan terjadi. Menurut Render dan Heizer (2004) pada jenis peramalan dapat dibedakan menjadi beberapa tipe. Dilihat dari perencanaan operasi di masa depan, maka peramalan dibagi menjadi 3 macam yaitu:

  • Peramalan ekonomi (economic forecast) menjelaskan siklus bisnis dengan memprediksi tingkat inflasi, ketersediaan uang, dana yang dibutuhkan untuk membangun perumahan dan indikator perencanaan lainnya.
  • Peramalan teknologi (technological forecast) memperhatikan tingkat kemajuan tehnologi yang dapat meluncurkan produk baru yang menarik, yang membutuhkan pabrik dan peralatan baru.
  • Peramalan permintaan (demand forecast) adalah prediksi dari proyeksi permintaan untuk produk atau layanan suatu perusahaan.


Demand Forecasting

Peramalan permintaan (forecasting Demand) merupakan suatu usaha memprediksi tingkat permintaan produk – produk yang diharapkan akan terealisasi untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang. Didalam Management permintaan ada dua jenis permintaan, yaitu:


Permintaan bebas (Independent Demand). Merupakan permintaan terhadap material, suku cadang atau produk yang bebas atau tidak terkait langsung dengan struktur Bill Of Material (BOM) untuk produk akhir atau item teretentu.


Permintaan tidak bebas (Dependent Demand). Merupakan permintaan terhadap material, suku cadang atau produk yang terkait langsung dengan atau diturunkan dari struktur BOM untuk produk akhir atau item tertentu.


Permintaan suatu produk pada suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan yang saling berinteraksi dalam pasar yang berada di luar kendali perusahaan. Dimana faktor - faktor lingkungan tersebut juga akan mempengaruhi peramalan. Berikut ini merupakan beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi peramalan :

  • Kondisi umum bisnis dan ekonomi
  • Reaksi dan tindakan pesaing
  • Tindakan pemerintah
  • Kecenderungan pasar
  • Siklus hidup produk
  • Gaya dan mode
  • Perubahan permintaan konsumen
  • Inovasi teknologi


Analisa deret waktu didasarkan pada asumsi bahwa deret waktu tersebut terdiri dari komponen komponen Trend/kecenderungan (T), Siklus/cycle (C), Pola Musiman/Season (S), dan variasi acak/Random (R) yang akan menunjukan suatu pola tertentu.Penjelasan komponen – komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  • Trend (T) merupakan sifat dari permintaan masa lalu terhadap waktu terjadinya apakah permintaan tersebut cenderung naik, turun atau konstan.
  • Cycle (C) merupakan sifat dari permintaan dalam satu periode apakah mengalami permintaan dengan jumlah yang sama atau tidak.
  • Season (S) merupakan Fluktuasi permintaan suatu produk yang dapat mengalami kenaikan atau penurunan pada saat saat musim tertentu. Pola ini biasanya disebabkan oleh factor cuaca, musim libur panjang, hari raya keagamaanyang akan berulang secara periodic tiap tahunnya.
  • Random (R) permintaan suatu produk dapat berubah secara tiba- tiba yang disebabkan oleh faktor tertentu. Contoh bencana alam, promosi khusus, perusahaan pesaing, dimana faktor- faktor ini tidak dapat diperkirakan dan tidak mempunyai pola tertentu.


Dalam metode time series ada beberapa teknik yang biasa digunakan tergantung pola permintaan yang terjadi, disini peneliti mencoba untuk menggunakan teknik Moving Average dimana Peramalan moving average (rataan bergerak) menggunakan sejumlah data aktual masa lalu untuk menghasilkan peramalan dengan persamaan sebagai berikut:


Keterangan :

  • At = Permintaan aktual pada periode t
  • N = Jumlah data permintaan yang dilibatkan dalam perhitungan


Penutup

Supply chain management (SCM) atau yang sering disebut sebagai rantai pasokan dalam setiap bisnis bisa saja berbeda. Sedangkan SCM melibatkan serangkaian kegiatan yang lebih luas, mulai dari mencari sumber bahan baku, memperoleh barang dan bahan baku dengan harga terbaik, dan mengoordinasikan upaya visibilitas di seluruh jaringan rantai pasokan.


Pengertian Supply Chain Management (SCM) adalah suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas seluruh perusahaan yang tergabung dalam rantai pasok melalui optimalisasi kualitas dan waktu. Supply Chain Management merupakan pengintegrasian sumber-sumber bisnis yang berkompeten baik di dalam maupun di luar perusahaan untuk mendapatkan sistem supplai yang kompetitif dan berfokus kepada sinkronisasi aliran produk dan informasi untuk menciptakan nilai pelanggan (customer value) yang tinggi. Sumber-sumber bisnis yang diintegrasikan meliputi Pemasok (Supplier), Pabrikan, Gudang, Pengangkut, Distributor, Retailer dan Konsumen yang bekerja secara efisien sehingga produk yang dihasilkan dan didistribusikan memenuhi tepat jumlah, kualitas, waktu dan lokasi. Masalah terhadap waktu proses produksi dan distribusi yang tidak menentu dan stok persediaan barang yang terkadang kehabisan dapat dioptimalkan melalui pengendalian persediaan barang.


Sumber Pusataka

  1.  Afif, Rafii Muhammad, Eddie Krishna Putra, and Tacbir Hendro Pudjiantoro. 2020. “Sistem Electronic Supply Chain Management Menggunakan Metode Just in Time Di PT Cemara Agung Mandiri.” 4:970–78. doi: 10.30865/mib.v4i4.2338.
  2. Handoko, Hani. 2014. Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan Operasi. Yogyakarta: Penerbit BPFE-Yogyakarta.
  3. Harsono, Hanifah. 2002. Implementasi Kebijakan Dan Politik. Jakarta: Grafindo Jaya.
  4. Hasibuan, Malayu. 2006. Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah,Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.
  5. Indrajit, R. E., & Djokopranoto, R. 2003. Manajemen Persediaan, Barang Umum Dan Suku Cadang Untuk Pemeliharaan Dan Operasi. Jakarta: Grasindo.
  6. Indrajit, Richardus Eko,.Djokopranoto, Richardus. 2002. Konsep Manajemen Supply Chain : Cara Baru Memandang Mata Rantai Penyediaan Barang. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
  7. Oey, Elia, and Gabriella Karolina Ayrine. 2018. “Penerapan Proses Dan Teknik Peramalan – Studi Kasus Di Manufaktur Transformer.” Jurnal Manajemen Industri Dan Logistik 2(2):106–15. doi: 10.30988/jmil.v2i2.31.
  8. Pahrudinsyah, Deppy, Aji Permana. 2020. “Implementasi SCM Pada Pengelolaan Barang Dan Distribusi Pomade Berbasis Web.” 2507(February):1–9.
  9. Pires, et al. 2001. Measuring Supply Chain Performance. Orlando: Orlando.
  10. Pujawan, I. Nyoman. 2017. Supply Chain Management. Surabaya: Guna Wijaya.
  11. Rahman, Aviv Yuniar, Bagus Setyawan, Feddy Wanditya Setiawan, and April Lia Hananto. 2020. “Model Supply Chain Management (SCM) Pada Pupuk Organik Berbahan Cacing.” JOINTECS (Journal of Information Technology and Computer Science) 5(1):33. doi: 10.31328/jointecs.v5i1.1198.
  12. Ravinder, Handanhal V. 2013. “Forecasting With Exponential Smoothing Whats The Right Smoothing Constant?” Review of Business Information Systems (RBIS) 17(3):117–26. doi: 10.19030/rbis.v17i3.8001.
  13. Risma, Leni Ayu, La Hatani, H. Muh. Taufik, and Agustinus Tangalayuk. 2020. “Implementasi Supply Chain Manajement Pada Kelompok Usaha Sagu Meambo Food Di Kelurahan Mata Kota Kendari.” Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan 12(1):26–42.
  14. Saptaria, Lina. 2016. “Peramalan Permintaan Produk Cincau Hitam Dalam Memaksimalkan SCM (Supply Chain Management).” Jmk 1(3):247–56.
  15. Sihotang, Fransiska Prihatini. 2020. “Supply Chain Management Pabrik Roti ABC Dengan Metode Weighted Moving Average (WMA).” JATISI (Jurnal Teknik Informatika Dan Sistem Informasi) 7(2):349–63. doi: 10.35957/jatisi.v7i2.299.
  16. Simchi-Levi, David. 2000. Designing And Managing The Supply Chain. United States of America: Mc Graw -Hill Companies Inc.
  17. Subagya. 1994. Manajemen Logistik. Jakarta: PT Gunung Agung.
  18. Turban, Efraim. 2005. Decision Support System and Intelligent System II. Yogyakarta: Andi Offset.

Konteks pemasaran (marketing) mengisyaratkan pentingnnya loyalitas, keputusan dan persepsi positif dari pelanggan terhadap layanan yang diberikan perusahaan. Untuk memegang kendali penuh terhadap aspek tersebut maka pendekatan yang paling relevan adalah dengan Customer Relationship Management (CRM). Konsep tersebut merupakan pendekatan yang paling relevan sehingga kita pahami bahwa CRM (Customer Relationship Management) merupakan strategi, cara-cara yang diputuskan oleh perusahaan dalam kegiatannya menjalankan sales, marketing dan service yang terintegrasi satu dengan lainnya.


Menurut Kristianto (2010) CRM (Customer Relationship Management) merupakan proses dinamis dalam mengelola hubungan antara pelanggan dengan perusahaan sehingga pada akhirnya para pelanggan dapat memilih untuk tetap melanjutkan interaksi yang saling menguntungkan secara komersial.


Customer Relationship Management (CRM) adalah proses mengidentifikasi pelanggan, menciptakan customer knowledge terhadap produk atau layanan yang ditawarkan, membangun hubungan (customer relationship), dan membentuk persepsi pelanggan terhadap perusahaan dan solusinya. CRM adalah proses untuk mendapatkan informasi pelanggan, mempertahankan pelanggan lama, dan mengembangkan pelanggan baru sehingga dapat menguntungkan (profitabel customers) bagi bisnis perusahaan terlebih dengan CRM analitikal ini interaksi menjadi saling menguntungkan antar dua pihak. Salah satu tinjauan penting dalam CRM ini adalah tentang analitikal, yang mengukur dan melakukan identifikasi kebutuhan pasar yang selanjutnya dapat digunakan untuk memutuskan strategi yang tepat.


Penegertian CRM (Customer Relationship Management) Analitikal

Customer Relationship Management (CRM) analitikal adalah proses analisis dari data-data yang dihasilkan melalui proses opersional. Oleh sebab itu proses analitikal tersebut tidak akan berlangsung sebelum bisnis melakukan operasionalnya. Sebagai lanjutan dari tahapan dalam pemasaran maka analitikal ini memiliki moment krusial, diamana perusahaan harus memiliki instrumen yang baik dalam pengumpulan datanya sehingga dapat dianalisis dengan baik pada tahapan ini.


Customer Relationship Management (CRM) analitikal adalah proses analisis data-data yang diperoleh dari kegiatan operasional perusahaan secara aktual yang dilakukan melalui riwayat bisnis yang sudah berlangsung. Semakin banyak landasan analisis yang digunakan maka akan semakin baik, akurat dan mudah analisis yang dilakukan. Pada saat ini banyak perusahaan berusaha untuk lebih mengerti tentang pelanggan mereka dengan memberikan respon secara lebih baik dan mengantisipasi kebutuhan mereka melalui rekomendasi analisis yang dilakukan. Namun, kebanyakan perusahaan berfokus untuk mengimplementasikan CRM hanya sebatas untuk mengetahui kebutuhan dan keluhan dari pelanggan, yang pada praktisnya hanya berkonsentrasi pada komponen operational dan collaborative, sehingga analisis akan pemahaman dan pengenalan terhadap pelanggan belum optimal. Dari kekurangan tersebut maka komponen analitikal dibutuhkan untuk mengoptimalkan hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya sehingga menciptakan iklim pemasaran yang berkelanjutan.


Menurut Greenberg (2004), analitikal CRM adalah tahapan untuk mendapatkan, menyimpan, mengekstrak, memproses, menginterpretasikan, dan melaporkan data pelanggan kepada perusahaan untuk dijadikan landasan dalam memutuskan strategi di masa depan. Xu dan Walton dalam Zafareh (2007) menyatakan bahwa CRM analitikal dilakukan dengan menggabungkan antar instrumen yang dapat memproses data informasi pelanggan untuk mendukung penyediaan informasi pelanggan secara strategis dan mendapatkan pehamaman tentang pelanggan. Analitikal CRM adalah sebuah kombinasi dari data warehouse atau data mart yang terintegrasi dengan business inteligence analitikal systems (Online Analitikal Processing – OLAP) (Zafareh, 2007).


Berdasarkan pengertian tersebut maka jelaslah bahwa konsep CRM ini tidak dapat dipisahkan antara operasional dan analikal. Karena keduanya dapat digunakan secara bersamaan dalam dinamika bisnis yang berkelanjutan. Masing-masing aktivitas tersebut dapat saling melengkapi dan memberikan hasil sebagai bahan bagi pengelola memetakan strategisnya. Untuk selanjutnya, praktisi bisnis yang berorientasi pada pemasaran dapat mengembangan instrumen apa saja yang digunakan dalam proses analitikal tersebut.


Tujuan CRM (Customer Relationship Management) Analitikal

Dengan menerapkan CRM analitikal, perusahaan diharapkan memiliki kecerdasan bersaing dalam penetapan strategi pemasarannya yang digunakan. Sebagai contoh, dengan CRM analitikal ini diharapkan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memetakan segment pelanggannya sebagai acuan untuk menentukan metode marketing yang lebih fokus sehingga lebih efisien. Informasi-informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber kemudian dikelola dan dianalisis menggunakan Pemrosesan analitik online (OLAP), menghasilkan pengetahuan yang lebih mengenai pelanggan dan memungkinkan proses marketing yang lebih efektif.


Dalam proses CRM analitikal diharapkan perusahaan mampu melakukan segmentasi pelanggan, membedakan pelanggan yang memiliki profitabilitas tinggi dengan tingkat akurasi yang lebih matang, sehinggan menyedbabkan return on investement (ROI) akan suatu pelanggan dapat diprediksi dengan baik. Dengan pengetahuan tersebut maka penawaran yang tepat, harga yang tepat dapat ditawarkan pada saat yang tepat, kepada pelanggan yang memang berpotensi untuk membelinya, hal ini akan mengoptimasi pelanggan dan perusahaan.


Dengan integrasi informasi tentang karakteristik pelanggan dari semua sumber operasional pada tahap sebelumnya dan sarana informasi vital lainnya yang menggambarkan interaskis perusahaan dengan pelanggan, maka manajemen perusahaan dapat memperoleh gambaran yang pasti tentang pelanggan dan prilaku keputusannya. Informasi yang memiliki akurasi tinggi dapat membantu perusahaan dalam melakukan personalisasi terhadap pelanggan dan melakukan penyesuaian (adaptasi) diri terhadap iklim bisnis seiring dengan kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi dari permintaan pelanggan.


Penerapan CRM (Customer Relationship Management) Analitikal

CRM analitikal digunakan juga sebagai alat untuk mengevaluasi profitabilitas yang diperoleh, berdasarkan segmentasi dari hasil analisa yang kuat, dan meningkatkan return on investement (ROI) dari pelanggan. Dengan menganalisa profitabilitas dari sisi pelanggan, perusahaan dapat melakukan segmentasi pelanggannya berdasarkan tingkat profitabilitasnya sehingga dapat menetapkkan target tingkat penjualannya terhadap masing-masing pelanggan.


Langkah selanjutnya adalah tindak lanjut terhadap feedback loop dari hasil analisa yang telah dilakukan melalui CRM analitikal tersebut untuk menentukan strategi interaksi selanjutnya yang akan dibangun dengan pelanggan. Dalam penelitian Ahmed (2004) membuat sebuah model data mining menggunakan prediksi dan klasifikasi untuk menemukan karakteristik dari pelanggan yang memiliki kecenderungan dalam memutuskan pembelitan. Berdasarkan informasi tersebut, jenis promosi yang efektif untuk menjaring pelanggan dengan segment tertentu dapat ditentukan dengan akurat. Tipe-tipe data yang diperlukan dalam aplikasi data mining untuk bisnis berbasis pelanggan diantaranya adalah:

  • Demografik, seperti usia, jenis kelamin, alamat sebagai informasi klasifikasi wilayah dan status pernikahan sebagai dasar tanggungan keluarga.
  • Status ekonomi, seperti gaji, nilai rata-rata pendapatan dan pengeluaran dan pekerjaan atau profesi.
  • Detail geografik, seperti kota, provinsi, dan negara untuk menentukan gambaran kemampuan pelanggan dilihat dari klasifikasi wilayah.

Semua data tersebut beserta jenis data demografik lain dapat digunakan untuk mengelompokkan pelanggan ke dalam suatu segmen pelanggan yang memiliki kemiripan karakteristik dan kebutuhan produk yang serupa. Selain penelitian di atas, Qiaohong, dkk (2004) menunjukkan desain analitikal CRM berbasis data warehouse. Sap.com (2003) mendiskusikan pentingnya penggunaan analitikal CRM di dalam suatu bisnis. Xu dan Walton (2005) juga menjelaskan pentingnya mendapatkan pengetahuan tentang pelanggan melalui analitikal CRM.

CRM analitis memberdayakan bisnis untuk:

  • Kumpulkan informasi pelanggan dan atur ke dalam repositori.
  • Tawarkan interaksi yang dipersonalisasi untuk meningkatkan hubungan dengan pelanggan dan prospek.
  • Tingkatkan keefektifan kampanye pemasaran dengan memisahkan audiens dalam kriteria yang berbeda.
  • Meramalkan dan mencegah pembelokan pelanggan untuk meningkatkan retensi pelanggan.
  • Rencanakan prakiraan keuangan yang didukung oleh analisis metrik kinerja.

Penutup

Meskipun banyak penelitian yang sudah dilakukan terkait penerapan aplikasi analitikal CRM, namun kebanyakan lebih berfokus pada teknologi data warehouse ataupun metode data mining daripada arsitektur dan implementasinya. Hal ini melatarbelakangi penelitian yang sudah dilakukan oleh Xie (2008) menganai perancangan arsitekur analitikal CRM beserta implementasinya pada industry bank. Gambar 3 di bawah ini merupakan arsitektur dari analitikal CRM yang sudah diimplementasikan. Secara umum sistem analitikal CRM dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu front-end subsystem yang menyediakan berabagi modul untuk mengontrol data warehouse dan data mining, serta back-end subsystem yang bertujuan untuk menganalisis, memprediksi, dan melaporkan perilaku pelanggan.


Sumber Pustaka

  1. Bryan, Bergeron. 2002. Essentials of Customer Relationship Management. New York: Wiley & Son Inc,.
  2. Chorianopoulos, Antonios. 2015. “Effective CRM Using Predictive Analytics.” John Wiley & Sons, Ltd. i–xv.
  3. Dyantina. 2012. “Penerapan Customer Relationship Management (CRM) Berbasis Web (Studi Kasus Pada Sistem Informasi Pemasaran Di Toko Yen-Yen).” Jurnal Sistem Informasi (JSI) 4(2):2.
  4. Greenberg. 2004. CRM at the Speed of Light: Essential Customer Strategies for the 21st Century (Third Edition). London & New York: McGraw-Hill.
  5. Hananto, Valentinus Roby, Agus Dwi Churniawan, and Ayouvi Poerna Wardhanie. 2017. “Perancangan Analitikal CRM Untuk Mendukung Segmentasi Pelanggan Di Institusi Pendidikan.” Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Asia 11(1):79. doi: 10.32815/jitika.v11i1.55.
  6. Hijriani, Astria, and Fikri Ahmad Maulana. 2019. “Implementasi Customer Relationship Management ( CRM ) Pada Usaha Mikro Bidang Retail Studi Kasus CV Duta Square Bandar Lampung.” Prosiding Seminar Nasional Sains, Matematika, Informatika Dan Aplikasinya. 5(1):84–94.
  7. Hutasoit, Elfrida Mariyetta, and Sandra Sunanto. 2017. “Rancangan Sistem Analitikal Crm Untuk Showroom Faza Sindanglaya77 Motor.” 2(1):1–17.
  8. Kodong, Frans Richard. 20011. “Customer Relationship Management.” Pengembangan Customer Reliationship Management (0274):463–78. doi: https://doi.org/10.31315/telematika.v7i2.420.
  9. Kristianto, Reynald Dwi. 2010. Customer Relationship Management. Yogyakarta: eknik Informatika UPN.
  10. Laudon. 2010. Management Information Syistem: Managing The Digital Firm. New Jersey: Prentic Hall.
  11. Mulyanto, Agus. 2009. Sistem Informasi Konsep Dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  12. Natalia, Natalia, Cooky Tri Adhikara, and Shirley Agusthina. 2020. “Analisis Implementasi Customer Relationship Management Dan Marketing Public Relations Terhadap Nilai Pelanggan Dan Dampaknya Terhadap Loyalitas Pelanggan: Studi Kasus Grand Tropic Suites’ Hotel.” Binus Business Review 3(1):513. doi: 10.21512/bbr.v3i1.1339.
  13. Ranjan. 2009. Role of Analitikal CRM in CRM Systems: Importance and Benefits. Management & Change. Management & Change.
  14. Sutanta, Edhy. 2003. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  15. Tjiptono. 2001. Manajemen Jasa. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
  16. Wardani, Ni Wayan. 2020. Penerapan Data Mining Dalam Analytic CRM.
  17. Zafareh. 2007. The Role of Analitikal CRM in Maximizing Customer Profitability in Private Banking. Lulea: Lulea University of Technology.

Faktor penentu keberhasilan dalam menjalankan visi, misi, dan tujuan perusahaan adalah karyawan. Maka dari itu perusahaan harus mengelolanya dengan baik, karena kinerja karyawan sangat mempengaruhi kinerja perusahaan.  Kinerja merupakan  hasil kerja seseorang baik kualitas maupun kuantitas sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya. Kinerja juga termasuk berlangsungnya suatu pekerjaan.  Kinerja merupakan hasil pekerjaan dengan tujuan strategis, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi.

 

Pengertian Kinerja Menurut Para Ahli

Kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu didalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Veithzal, 2005). Kinerja karyawan tidak hanya sekedar informasi untuk dapat dilakukannya promosi atau penetapan gaji bagi perusahaan. Akan tetapi bagaimana perusahaan dapat memotivasi karyawan dan mengembangkan satu rencana untuk memperbaiki kemerosotan kinerja dapat dihindari.
Kinerja karyawan perlu adanya penilaian dengan maksud untuk memberikan satu peluang yang baik kepada karyawan atas rencana karier mereka dilihat dari kekuatan dan kelemahan, sehingga perusahaan dapat menetapkan pemberian gaji, memberikan promosi, dan dapat melihat perilaku karyawan. Penilaian kinerja dikenal dengan istilah “Performance Rating” atau “Performance Appraisal”. Menurut Munandar, (2008) penilaian kinerja adalah proses penilaian ciri-ciri kepribadian, perilaku kerja, dan hasil kerja seseorang tenaga kerja atau karyawan (pekerja dan manajer), yang dianggap menunjang unjuk kerjanya, yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang tindakan-tindakan terhadap bidang ketenagakerjaan.

 

Dimensi Kinerja

Pekerjaan dengah hasil yang tinggi harus dicapai oleh karyawan. Mangkunegara (2000) menyatakan bahwa ukuran yang perlu diperhatikan dalam penilaian kinerja antara lain:

  1. Kualitas kerja yaitu kerapian, ketelitian, dan keterkaitan hasil kerja dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan. Dengan adanya kualitas kerja yang baik dapat menghindari tingkat kesalahan dalam penyeleseian suatu pekerjaan serta produktivitas kerja yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan.
  2. Kuantitas Kerja yaitu volume kerja yang dihasilkan dibawah kondisi normal. Kuantitas kerja menunjukkan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan dalam satu  waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat terlaksana sesuai dengan tujuan perusahaan.
  3. Tangung Jawab yaitu menunjukkan seberapa besar karyawan dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang dipergunakan serta perilaku kerjanya.
  4. Inisiatif yaitu menunjukkan seberapa besar kemampuan karyawan untuk menganalisis, menilai, menciptakan dan membuat keputusan terhadap penyelesaian masalah yang dihadapinya.
  5. Kerja Sama yaitu merupakan kesediaan karyawan untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain  secara vertical atau horizontal didalam maupun diluar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan semakin baik.
  6. Ketaatan yaitu merupakan kesediaan karyawan dalam mematuhi peraturan-peraturan yang  melakukan pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan kepada karyawan.

Indikator Kinerja

Suatu perusahaan melakukan penilaian kinerja didasarkan pertimbangan bahwa perlu adanya suatu sistem evaluasi yang objektif   terhadap   organisasional.   Selain   itu,   dengan   adanya penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang objektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi  yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggung jawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan rangsangan kepada msing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.
Sumber daya manusia memberikan kontribusi kepada organisasi yang kebih dikenal dengan kinerja. Menurut Maltis dan Jackson, (2002) kinerja karyawan adalah seberapa banyak mereka memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara lain termasuk:
  1. Kuantitas Keluaran. Jumlah keluaran yang seharusnya dibandingkan dengan kemampuan sebenarnya. Misalnya: seorang karyawan  pabrik rokok dibagian produksi  hanya  mampu menghasilkan 250 batang rokok per hari, sedangkan standar umum ditetapkan sebanyak 300 batang rokok per hari. Ini berati kinerja karyawan tersebut masih dibawah rata-rata.
  2. Kualitas Keluaran. Kualitas produksi lebih diutamakan dibandingkan jumlah output. Misalnya: dari 100 batang rokok yang dihasilkan, tingkat kesalahan (cacat) yang ditolerir adalah maksimal sebatang rokok. Apabila karyawan mampu menekan angka maksimum tersebut maka dikatakan memiliki kinerja yang baik.
  3. Jangka Waktu  Keluaran. Ketetapan waktu yang digunakan dalam menghasilkan sebuah barang. Apabila karyawan dapat mempersingkat waktu proses sesuai dengan standar, maka karyawan tersebut dapat dikatakan memiliki kinerja yang baik.
  4. Misalnya: waktu standar yang ditetapkan untuk menghasilkan 100 batang rokok adalah 120 menit, jika karyawan dapat mempesingkat menjadi 100 menit per 100 batang, maka kinerja karyawan tersebut dikatakan baik.
  5. Tingkat Kehadiran di Tempat Kerja. Kehadiran karyawan di tempat kerja sudah ditentukan pada awal karyawan bergabung dengan perusahaan, jika kehadiran   karyawan   dibawah   standar   hari kerja yang ditetapkan maka karyawan tersebut tidak akan mampu memberikan kontribusi yang optimal terhadap perusahaan.
  6. Kerjasama. Keterlibatan seluruh karyawan dalam mencapai target yang ditetapkan sangat penting kerjasama yang baik antar karyawan akan mampu meningkatkat kinerja.

Faktor-Faktor Kinerja

Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien.
Otoritas menurut adalah sifat dari suatu komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya Prawirosentono. Perintah tersebut mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam organisasi tersebut.
Disiplin adalah taat kepda hukum dan peraturan yang berlaku. Jadi, disiplin karyawan adalah kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan organisasi dimana dia bekerja. Inisiatif yaitu berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.

Penutup

Kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu didalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. dengan   adanya penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang objektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi  yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggung jawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan rangsangan kepada msing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.

Sumber Pustaka

  1. Mathis, R., & Jackson, J. (2004). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Salemba empat.
  2. Mangkunegara, A. A. A. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan Bandung: Remaja Rosda Karya.
  3. Munandar, Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri Dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
  4. Viethzal, R. Z., Ramly, M., Mutis, T., & Arafah, W. (2014). Manajemen Sumbar Daya Manusia untuk Perusahaan dari Praktek ke Teori. (3, Ed.). Depok: RajaGrafindo Persada.


 

Modal kerja atau yang sering disebut working capital adalah aktiva-aktiva jangka pendek yang digunakan untuk membiayai operasional perusahaan sehari-hari. Aktiva ini bertujuan untuk digunakan dalam proses produksi barang atau pelayanan jasa sehingga diharapkan baiaya tersebut dapat kembali dalam jangka pendek dan menghasilkan laba dari selisih tersebut. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai konsep dasar dan pengertian modal kerja menurut para ahli secara lengkap berdasarkan teori yang saya ketahui dan baca dari berbagai sumber penelitian yang valid. Selain itu kita akan membahas pula mengenai aspek-aspek apa saja yang berkaitan dengan modal kerja tersebut serta manfaatnya dalam dunia bisnis pada saat ini.

Sebagai pembukaan maka saya jelaskan bahwa dengan semakin berkembangnya pasar global dan dunia usaha yang semakin maju, dengan persaingan antar perusahaan baik nasional maupun internasional, khususnya perusahaan dengan jenis yang sama akan semakin ketat. Untuk menjaga stabilitas kesehatan keuangan sebuah perusahaan dalam iklim atmosfer persaingan seperti saat ini dibutuhkan strategi pengelolaan sumber daya dan beban keuangan yang dilakukan oleh pihak manjemen perusahaan dengan baik dan tepat. Bagi pihak manajemen, selain dituntut untuk melakukan pengelolaan seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan secara efektif dan efisien, juga dituntut untuk dapat menghasilakan keputusan-keputusan berdasarkan Analisa akurat yang menunjang terhadap pencapain tujuan perusahaan di masa yang akan datang.

Perkembangan dunia usaha dan bisnis nasional saat ini ditandai dengan perkembangan yang cepat disegala bidang. Perusahaan akan melakukan berbagai komponen aktivitas untuk mencapai tujuan-tujuan bisnisnya yaitu untuk memperoleh keuntungan (Profit) dan menjaga kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (growth). Oleh sebab itu pihak manjemen membutuhkan informasi sebagai dasar analisis sehingga menghasilkan rekomendasi strategi bisnis untuk pencapaian tujuan perusahaan tersebut.

Tujuan dari sebuah perusahaan secara umum adalah mendapatkan laba atau keuntungan secara finansial. Salah satu aktivitas utama perusahaan dalam mencapai laba adalah dengan melakukan penjualan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa penjualan merupakan penyumbang keuangan terbesar dari suatu perusahaan. Agar keuntungan itu dapat diperoleh sesuai target, maka perusahaan harus dapat mengelola stabilitas penjualannya tersebut dengan membuat sebuah recana strategis dan prosedur kerja yang baik dalam proses penjualan dan mempermudah pembeli dalam proses transaksinya sehingga dapat dicapai tingkat penjualnnya yang maksimal. Sebelum kita membahas lebih mendalam mengenai modal kerja suatu perusahaan, maka dari uraian di atas sudah jelas bahwa modal kerja tersebut sangat dibutuhkan oleh perusahaan salah satunya adalah sebagai power dalam menjalankan aktivitas penjualan.

Semua perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membiayai kegiatan operasionalnya baik perusahaan yang bergerak dalam bidang industri maupun jasa. Modal kerja harus selalu dalam keadaan berputar. Selama perusahaan melakukan kegiatan usaha karena pengelolaan modal kerja yang baik adalah efisiensi modal kerja yang dapat dilihat dari perputaran modal kerja tersebut. Perputaran modal kerja dimulai dari saat kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja saat kembali menjadi kas. Dalam perjalanannya kas tersebut mengalami konversi dari mulai digunakan untuk membeli alat-alat, gaji pegawai, bahan baku hingga dilakukan penjualan dan kembali menjadi kas dengan nilai yang berbeda.

Pengertian Modal Kerja Menurut Para Ahli

Setelah beberapa saat mencari pengertian modal kerja dari berbagai sumber, akhirnya saya menemukan satu sumber lagi yang menurut saya ini adalah pendapat yang lebih sesuai dengan apa yang ingin saya bahas pada kesempatan kali ini. Menurut pendapat Sutrisno (2008) mengemukakan bahwa modal kerja adalah dana yang digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan sehari-hari seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah buruh, membayar utang dan pembayaran lainnya. Pendapat tersebut menunjukan bahwa modal digambarkan sebagai sesuatu yang lebih nyata dan sesuai dengan pandangan para pelaku bisnis kecil menengah saat ini.

Dari beberapa pendapat para pakar tersebut maka kita akan mengambil kesimpulan yang lebih relevan. Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam bentuk  harta jangka pendek dalam bentuk uang tunai atau dana yang juga bisa bersumber dari konversi surat berharga, piutang dan persediaan yang secara singkat digunakan dalam proses produksi. Selain itu modal usaha digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan operasi perusahaan secara singkat selama proses berlangsung waktu itu juga. Kebutuhan operasional tersebut meliputi pembeliaan bahan baku, pembayaran upah karyawan, pembayaran kewajiban rutin dan pembayaran lainnya yang menopang proses selama alur tersebut berlangsung. Hingga setelah proses penjualan terjadi dan modal kembali menjadi kas sebagai dana akhirnya menghasilkan selisih  yang disebut dengan laba.

Memahami Pecking Order Theory

Pecking order theory

adalah literasi para pebisnis yang menggambarkan sebuah tingkatan (level) dalam pencairan dana perusahaan. Berdasarkan teori ini menunjukan bahwa sebuah perusahaan bisnis dengan produksi tinggi lebih memilih menggunakan internal equity dalam membiayai sebuah investasi dan mengimplementasikannya dalam strategi bisnis menjadi peluang pertumbuhan. Theory pecking order menyatakan bahwa sebuah perusahaan bisnis lebih suka pendanaan internal yang bersumber dari laba dan proses operasional  dibandingkan yang bersumber dari pendanaan eksternal. Hal ini merupakan rujukan krakteristik dalam bisnis dimana perusahaan lebih memilih utang yang aman dibandingkan utang yang beresiko serta yang terakhir adalah saham biasa (Myers & Majluf 1984). Theory pecking order yang dibangun berdasarkan referensi teoritis dan beberapa asumsi para pakar yang  menekankan pada pentingnya financial slack yang cukup di perusahaan guna mendanai proyek-proyek dengan dana internal yang lebih aman. Internal equity diperoleh dari laba ditahan atau laba yang diendapkan dan depresiasi atau amortisasi dengan tujuan yang jelas. Utang perusahaan diperoleh dari pinjaman kreditur, sedang eksternal equity diperoleh karena perusahaan menerbitkan saham baru sehingga diakui sebagai danainternal atau modal yang diperoleh darkepentingan permodalan para pemegang saham. 

The pecking order theory berpendapat bahwa perusahaan memiliki permasalahan informasi bisnis secara asimetri. Perusahaan yang memiliki financial slack atau kelonggaran finansial yang cukup tidak perlu menerbitkan risky debt atau saham yang diterbitkan untuk menandai proyek-proyek barunya sehingga permasalahan informasi tidak akan muncul. Perusahaan akan dapat menerima dan menjalankan seluruh proyek bagus tanpa harus merugikan pemegang saham lama. Teori ini merupakan penjelasan dari perilaku perusahaan yang menahan sebagian laba yang diperoleh dari proses penjualan dan membuat cadangan kas yang cukup besar untuk diputar kembali menjadi modal produksi.

Jenis-Jenis Modal Kerja

Menurut Riyanto (2008), modal kerja digolongkan dalam 2 (dua) jenis yaitu modal kerja permanen dan modal kerja variable. Lebih jelasnya kita akan bahas satu-persatu kedua jenis modal kerja tersebut:

  1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital), yaitu modal kerja yang bersifat tetap berada pada perusahaan untuk dapat menjalani fungsi produksinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran bisnis dan usahanya. Modal kerja ini terdiri dari: modal kerja primer (Primary Working Capital) yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjaga keberlanjutan usahanya dan modal kerja normal (Normal Working Capital) yaitu modal kerja yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan proses produksi yang bersifat normal.
  2. Modal kerja variabel (variabel working capital) yaitu jumlah kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja di bebankan menjadi modal kerja musiman, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.  Modal kerja siklus, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur (permintaan produk). Modal kerja darurat, yaitu modal kerja yang besarnya besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya ( misalnya adanya pemogokan buruh , banjir, perubahan ekonomi yang mendadak).

Konsep Modal Kerja

Berdasarkan bukunya yang berjudul “Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan” Menurut Riyanto (2008) dikenal ada 3 (tiga) konsep modal kerja, yaitu konsep kuantitatif, konsep kualitatif dan konsep fungsional. Mari kita jelaskan masing-masing konsep tersebut sebagai berikut:

  1. Konsep kuantitatif, konsep ini didasarkan pada kuantitas dari dana modal perusahaan yang tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva dimana dana yang tertanam didalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar, modal kerja dalam pengertian ini sering disebut dengan modal kerja bruto (gross working capital).
  2. Konsep kualitatif, dalam konsep ini pengertian modal kerja dikaitkan dengan besarnya jumlah hutang lancar atau hutang yang harus segera dibayar. Dengan demikian maka sebagian dari aktiva lancar harus disediakan untuk memenuhi kewajiban finansial yang segera harus dilakukan, dimana bagian aktiva lancar ini tidak boleh digunakan untuk membiayai operasi perusahaan untuk menjaga likuiditasnya. Oleh karena itu, modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar diatas hutang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto (net working capital). Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang lancarnya (hutang jangka pendek).
  3. Konsep fungsional, konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilakan pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam suatu periode akuntansi.

Pentingnnya Modal Kerja

Menurut pendapat Munawir (2000), tersedianya modal kerja yang segera dapat dipergunakan perusahaan dalam operasionalisasi tergantung pada karakteristik dari aktiva lancar yang dimiliki seperti: kas, effek, piutang dan persediaan. Tetapi modal kerja perusahaan tersebut harus cukup jumlahnya dalam artian harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan, disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis atau efisien dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan, juga akan memberikan beberapa keuntungan lain, antara lain:

  1. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
  2. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajibankewajiban tepat.
  3. Memungkinkan dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi. 
  4. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya.
  5. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntumgkan kepada para pelanggannya.
  6. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang dibutuhkan.

Sumber Modal Kerja

Setiap kenaikan modal kerja disebut dengan sumber modal, sedangkan penurunan disebut dengan penggunaan. Kenaikan dan penurunan modal kerja dilakukan untuk mengetahui bagaimana modal kerja tersebut digunakan atau dibelanjakan pada faktor-faktor produksi oleh perusahaan bisnis dalam aktivitasnya sehari-hari. Kebutuhan akan modal kerja tersebut harus dan mutlak disediakan perusahaan dalam bentuk apapun baik dalam bentuk dana, bahan baku atapun tenaga kerja. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan sumber-sumber modal kerja yang dapat dicari dari berbagai sumber yang tersedia. Namun dalam pemilihan sumber modal perlu diperhatikan untung ruginya sumber modal tersebut. Pertimbangan ini perlu dilakukan agar tidak menjadi beban perusahaan ke depan atau akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan dikemudian hari.  Sumber modal yang normal menurut Amin Widjaja Tunggal (2000) meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Operasi nilai perusahaan.
  2. Laba yang diperoleh dari penjualan surat-surat berharga.
  3. Penjualan aktiva tetap, penanaman jangka panjang / aktiva tak lancar dan lain-lain. 
  4. Pengemmbalian pajak dan keuntungan pajak luar biasa lainnya.
  5. Peeneriman yang diperoleh dari penjualan oblogasi saham dan penyetoran dana oleh para pemilik perusahaan.
  6. Penerimaan pinjaman jangka panjang dan jangka pendek yang diperoleh dari bank atau pihak lain.
  7. Pinjaman yang dijamin dengan hipotek atas aktiva tetap dan aktiva tak lancar.
  8. Penjualan piutang dengan jalan penjualan biasa/ dengan factoring (penjualan dengan cara penjualan faktur, pemberian kredit, diserahkan pada lembaga keuangan).
  9. Kredit pelanggan. 

Munawir (2014) menyimpulkan bahwa modal kerja tersebut akan bertambah apabila:

  1. Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atas tambahan investasi dari pemilik perusahaan. 
  2. Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva tetap maupun melalui proses despresiasi.
  3. Ada penambhan hutnang jangka panjang maupun dari bentuk obligasi, hipotek atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja

Nilai penggunaan modal kerja yang digunakan setiap hari oleh perusahaan tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dan menjadi fokus bagi perusahaan mempertahankan stabilitasnya. Menurut pendapat Munawir (20014) modal kerja dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor penting diantanya adalah:

  1. Sifat, karakteristik dan tipe perusahaan. Nilai modal kerja suatu perusahaan bisnis atau dagang relative lebih rendah bila dibandingkan dengan modal kerja perusahaan industri yang membutuhkan modal lebih besar untuk membeli bahan baku, karena tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas untuk menjalankan operasionalnya, piutang usaha maupun persediaan barang dan kebutuhan uang tunai pada kas perusahaan dagang. Untuk pembelanjaan operasi dapat dipenuhi melalui penghasilan atau penerimaan saat itu juga ketika terjadi transaksi.
  2. Tingkat usaha yang dubutuhkan untuk memperoleh atau memproduksi barang dan jasa yang akan dijual serta harga per satuan. Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan sangat erat kaitannya dengan waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk memperoleh barang atau jasa yang akan dijual, begitu juga dengan bahan baku yang akan diproduksi sampai barang itu siap untuk dijual. Semakin panjang proses dan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang dan jasa tersebut maka semakin besar pula modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam oprasionalnya. Disamping itu harga pokok per satuan barang yang dijual juga mempengaruhi besar kecilnya modal kerja yang dibutuhkan. Semakin besar harga pokok per satuan barang dan jasa yang akan dijual maka semakin besar pula kebutuhan modal kerjanya.
  3. Syarat pembelian bahan baku. Adaanya syarat pembelian bahan baku yang akan digunakan untuk memproduksi jasa atau barang dagang berkaitan erat dengan jumlah modal kerja yang dibutuhkan untuk perusahan yang bersangkutan dalam prosesnya. Jika mekanisme syarat yang ditempuh pada waktu dilakukan pembelian menguntungkan maka akan semakin sedikit dana yang diinvestasikan dalam persedian bahan baku atau barang dagangan tersebut. Namun sebaliknya apabila pembayaran atas bahan atau barang yang akan dilakukan pembelian tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu pendek maka uang kas diperlukan untuk membiayai proses tersebut akan semakin besar pula.
  4. Syarat penjualan kepada pelanggan. Dengan semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada para pembeli atau konsumen akan menyebabkan semakin besar jumlah modal kerja dari perusahaan tersebut yang harus diinvestasikan pada sektor pos piutang. Untuk menurunkan jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan maka yang harus di sektorkan dalam bentuk piutang dan untuk memperkecil resiko adanya piutang yang akan tartagih sebaiknya perusahaan memberikan potongan tunai kepada para pembeli atau konsumen, karena dengan demikian pembeli akan tertarik untuk segera membayar utangnya dalam periode diskon tersebut.
  5. Tingkat pertukaran persedian (inventory turnover). Pertukaran persediaan pada perusahaan menunjukan berapa kali persediaan tersebut diganti dalam jangka waktu tertentu, semakin tinggi tingkat pertukaran persediaan barang dan bahan baku maka jumlah modal kerja perusahaan yang diinvestasikan dalam komponen persediaan semakin rendah. Untuk dapat menemukan tingkat perputaran persediaan yang tinggi tersebut maka harus diadakan perencanaan persediaan dan pengendalian persediaan secara teratur dan efisien oleh manajemen. Semakin cepat wktu ang dibutuhkan atau semakin tinggi tingkat perputaran persediaan akan memperkecil resiko terjadinya kerugian yang disebabkan penurunan mutu barang atau karena perubahan selera konsumen pada jangka waktu tersebut, disamping menghemat ongkos menyimpan dan pemeliharaan terhadap persediaan barang tersebut.

Manfaat Modal Kerja

Modal kerja perusahaan disarankan sebaiknya tersedia dalam jumlah dan nilai yang besar agar memberikan peluang bagi perusahaan untuk dapat beroperasi secara efisien dan tidak mengalami kekurangan atau kesulitan keuangan pada saat berjalan. Menurut pendapat Jumingan (2001) berikut ini adalah manfaat modal kerja yang jumlahnya besar dan cukup untuk menjalankan operasional:

  1. Memberikan perlindungan kepada perusahaan dari dampak negatif turunnya nilai aktiva lancar, misalnya adanya kerugian karena debitur tidak membayar, turunnya nilai persediaan karena harganya merosot.
  2. Memberikan peluang kepada perusahaan untuk melunasi hutang dan kewajibannya dalam jangka pendek dan tepat pada waktunya.
  3. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat membeli faktor produksi atau barang dengan metode tunai sehingga memperoleh keuntungan dari potongan harga.
  4. Memberikan jaminan kepada perusahaan untuk memiliki reputasi kredit (credit standing) yang baik dan dapat mengatasi beberapa peristiwa yang tidak diduga seperti kecelakaan kerja, kerusakan infrastruktur, kebakaran bangunan, pencurian dan lain-lain.
  5. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memiliki persediaan dalam nilai yang besar guna memberikan pelayanan permintaan dari konsumen.
  6. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat memberikan atau menegosiasikan syarat kredit yang menguntungkan kepada pelanggan sehingga meningkatkan penjualan secara signifikan.
  7. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi lebih efisien karena tidak ada kesulitan pada saat memperoleh bahan baku produksi, jasa, dan pada saat proses suplai.
  8. Memungkinkan bagi perusahaan untuk mampu bertahan dalam kondisi ekonomi resesi atau depresi. 
Sumber Pustaka:
  • Amin, Widjaja Tunggal, 2000. Dasar-Dasar Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rineka Cipta
  • Atmaja Lukas Setia, 2008, Teori dan Praktek Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Penerbit Andi
  • Jumingan. 2011. AnalisisLaporanKeuangan. Jakarta: BumiAksara.
  • Myers, S. c., 1984, Capital Structure Puzzle, Journal of Finance, 39 (3), pp 575-592.
  • Munawir, 2014, Analisis Laporan Keuangan, Penerbit Liberty, Yogyakarta
  • Riyanto,Bambang. 2008. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Ed Keempat, Cetakan Kedelapan.Yogyakarta:BPFE
  • Sutrisno (2006), Akuntansi Penyusunan Laporan Keuangan, Jakarta, Salemba Empat.